PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata kuliah: Psikologi Perkembangan
Disusun Oleh:
Samirotul Azizah
Samirotul Azizah
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
Anak merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses
perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak
matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi
manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan
anak adalah suatu proses perubahan di mana anak belajar menguasai tingkat yang
lebih tinggi dari aspek-aspek: gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik
dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Proses pendidikan bagi anak secara formal dapat ditempuh di Sekolah
Dasar atau Madrasah Ibtida’iyah. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan yang
ditujukan untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran agar anak dapat
mengembangkan potensi-potensinya sehingga anak dapat berkembang secara wajar
sebagai seorang anak. Melalui suatu proses pembelajaran sejak usia dini,
diharapkan anak tidak saja siap untuk
memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut, tetapi yang lebih utama agar anak
memperoleh rangsangan-rangsangan fisik-motorik, kognitif, sosial, dan emosi
sesuai dengan tingkat usianya.
Membantu proses pengembangan berbagai aspek perkembangan anak
perlu diawali dengan pemahaman tentang perkembangan anak, karena perkembangan
anak berbeda dengan perkembangan anak remaja atau orang dewasa. Anak memiliki
karakteristik tersendiri dan anak memiliki dunianya sendiri. Untuk mendidik
anak usia dini, perlu dibekali pemahaman tentang dunia anak dan bagaimana
proses perkembangan anak. Dengan pemahaman ini diharapkan para pendidik anak
usia dini memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menentukan proses
pembelajaran ataupun perlakuan pada anak yang dibinanya.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa
dimaksud dengan psikologi perkembangan anak?
B.
Apa
pentingnya memahami perkembangan anak?
C.
Apa
saja aspek yang mempengaruhi perkembangan anak?
III.
PEMBAHASAN
A.
Psikologi Perkembangan Anak
Sebelum memahami pengertian psikologi perkembangan anak, alangkah
lebih baiknya dipahami terlebih dahulu mengenai psikologi perkembangan. Berikut
pendapat beberapa ahli mengenai psikologi perkembangan:
1.
“ ….
That branch of psychology which studies processes of pra and post natal growth and maturation of
behavior.” “Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang
mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran
berikut kematangan perilaku.” (J.P. Chaplin, 1979).
2.
Psikologi
perkembangan merupakan “cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah
laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa
konsepsi sampai mati.” (Ross Vasta, dkk., 1992).[1]
Dari kedua pendapat ahli di atas menunjukkan bahwa psikologi perkembangan
adalah salah satu fokus psikologi pada kajian mengenai perubahan tingkah laku
dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra-natal) sampai meninggal.
Jadi, psikologi perkembangan anak adalah psikologi perkembangan
yang secara khusus mempelajari tingkah laku anak.[2]
B.
Pentingnya Memahami Perkembangan Anak
Dalam upaya mendidik atau membimbing anak agar mereka dapat
mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin, maka bagi para pendidik, orang
tua, atau siapa saja yang berkepentingan dalam pendidikan anak sangat perlu
untuk memahami perkembangan anak.
Pentingnya
memahami perkembangan anak karena beberapa alasan yaitu sebagai berikut:
1.
Masa
anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam
banyak aspek perkembangan.
2.
Pengalaman
masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
3.
Pengetahuan
perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan
masalah yang dihadapinya.
4.
Melalui
pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat
diantisipasi tentang berbagai upaya untuk menfasilitasi perkembangan tersebut,
baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Di samping itu dapat
juga diantisipasi tentang upaya untuk mencegah berbagai kendala atau faktor-faktor
yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni) perkembangan anak.[3]
Dengan pemahaman dan pengetahuan yang baik mengenai perkembangan
seorang anak, maka akan membantu
perkembangan anak itu akan dapat tercapai sebaik-baiknya, tanpa terjadi
ekses-ekses kurang baik yang tidak diharapakan. Sebagai contoh, dalam pemberian
bahan pelajaran. Dalam umur berapakah
anak harus belajar membaca, menulis, hitung-menghitung dan sebagainya. Yang
terpenting adalah agar anak dengan senang hati dalam mengembangkan potensinya
bukan karena terpaksa yang tentu saja akan mengundang frustasi bagi anak.
C.
Aspek yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga ajal selalu
terjadi perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis. Piaget yang dikutip
oleh Elizabeth menjelaskan bahwa struktur itu tidak pernah statis dan sudah ada
semenjak awal.[4]
Usia lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus
masa kritis dalam tahapan kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak
selanjutnya.
Adapun aspek-aspek perkembangan anak pada usia tertentu yang perlu
diperhatikan meliputi:
1.
Perkembangan
Kognitif
Perkembangan kognitif adalah proses di mana individu dapat
meningkatkan kemampuan dalam menggunakan pengetahuannya. Istilah kognisi (cognition)
dimaknai sebagai strategi untuk mengorganisir lingkungan dan strategi untuk
mereduksi kompleksitas dunia.[5] Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana
anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir. Semua anak memiliki pola
perkembangan kognitif yang sama.
Jean Piaget mengemukakan teori tentang perkembangan kognitif yang
kemudian memiliki pengaruh besar dalam perkembangn psikologi. Piaget
mengemukakan adanya empat periode perkembangan.[6]
a.
Sensori
motorik (0-2 tahun), intelegensi anak baru nampak
dalam bentuk aktifitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Anak mulai
mengenal dan membedakan benda, orang, termasuk dirinya dengan orang lain.
b.
Preoperasional
(2-7 tahun), meningkatkan kemampuan berpikir dan penggunaan bahasa
yang sistematis, dapat mengamati objek yang hampir sama, mengklasifikasikan
benda dan bersifat egosentrik.
c.
Konkret
operasional (7-11 tahun),
berpikir logis terhadap objek yang konkret, berkurang rasa egonya, terjadi
peningkatan pemeliharaan (misalnya memelihara permainan), aspek dinamis dalam
perubahan situasi sudah diperhatikan.
d.
Formal
operasional (11 tahun-ke
atas), berpikir formal operasional dan mempunyai dua sifat penting, yaitu: 1) Deduktif
hipotesis, membandingkan, mendeduksi dan menyimpulkan benda-benda dan
kejadia-kejadian. 2) Kombinatoris, menghubungkan antara symbol-simbol
untuk membentuki konsep yang tidak dialami secara langsung dan mengerti.
2.
Perkembangan
berdasarkan Jenis Kelamin
Anak belajar perilaku sesuai dengan jenis kelaminnya dengan cara beridentifikasi dengan orang tua mereka dan lewat pendidikan
serta tekanan orang tua. Selain itu anak belajar beridentifikasi dengan
orang dewasa atau anak yang lebih tua di luar lingkungan rumah dan dengan
stereotip budaya di media massa.
Stereotip
berlaku sebagai standar yang digunakan kelompok sosial untuk menilai apakah
seorang individu sesuai atau tidak sesuai dengan jenis kelaminnya dan sebagai
standar evaluasi diri. Seseorang menilai dirinya sesuai atau tidak sesuai
dengan jenis kelaminnya dengan melihat seberapa jauh sifatnya memenuhi standar
yang ditetapkan stereotip. Stereotip juga bertindak sebagai pedoman pelatihan
anak. Anak diajat sejak awal masa kanak-kanak untuk melihat, berpikir, merasa
dan bertindak sesuai dengan standar yang ditentukan stereotip untuk kelompok
jenis kelaminnya.[7]
Pada anak masuk sekolah, arti-arti tersebut ditambahkan pada konsep
dirinya, dan bobot emosional yang didasarkan atas sikap sosial terhadap peran
kedua jenis kelamin, menjadi bagian penting dari konsep diri.[8]
Di bidang emosi, ada anggapan bahwa anak perempuan lebih emosional dari
anak laki-laki. Pada tahun pertama
usia anak tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dan wanita. Namun
mulai usia 2 tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih.
3.
Perkembangan
Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang menbedakan antara
manusia denga binatang. Dengan berbahasa manusia dapat berkomunikasi dengan
orang lain yang berarti akan membuka cakrawala informasi yang sangat dibutuhkan
dalam hidupnya.[9]
Perkembangan bahasa anak ini dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan.
Bahasa anak dapat diklasifikasikan yakni sebagai referensial dan
ekspresif. Kata-kata benda pada umumnya digolongkan pada referensial,
sedangkan kata-kata sosial digolongkan sebagai ekspresif.[10]
Pada dasarnya anak memperoleh kemampuan bahasa dimulai dari babbling (ngoceh)
kemudian berkembang ke dalam kalimat-kalimat yang kompleks. Perlu anak memahami
kata demi kata sampai tersusun dalam suatu tata bahasa dan kalimat yang dapat
dimengerti. Laju perkembangan bahasa anak dimulai saat anak dapat menyusun
pendapat positif (misalnya: “mama makan”), menyusun pendapat negatif (misalnya:
“mama tidak makan”) dan selanjutnya anak dapat menyusun pendapat kritikan,
keragu-raguan dan menarik kesimpulan analogi.
Dalam berbahasa, anak dituntut untuk menuntaskan atau menguasai
empat tugas pokok yang saling berkaitan satu sama lain, yakni:
a.
Pemahaman,
yaitu kemampuan anak memahami makna ucapan orang lain dengan memahami gerakan
(bahasa tubuh) orang lain sewaktu ia masih bayi.
b.
Pengembangan
perbendaharaan kata. Kemampuan ini dimuali saat usia dua tahun sampai usia pra
sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah.
c.
Penyusunan
kata menjadi kalimat, umumnya kemampuan ini berkembang sebelum usia dua tahun dan
diawali dengan kalimat tunggal yang disertai gerakan untuk melengkapi cara
berpikirnya. Contoh, anak menyebut “Bola” sambil menunjuk itu berarti “tolong
ambilkan bola untuk saya”. Seiring meningkatnya usia dan pergaulannya, tipe
kalimat yang diucapkan pun semakin kompleks.
d.
Ucapan,
kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil
belajar melalui peniruan terhadap suara yang didengar dari orang lain.
Kejelasan ucapan baru tercapai ketika usia anak sekitar tiga tahun.
Bahasa secara umum mempertinggi fungsi kognitif seperti pemikiran,
pemecahan persoalan, pemberian kode dan penyimpanan pengetahuan (memori).
Proses pemikiran kognitif tidak seluruhnya bergantung pada bahasa, sebab banyak
anak yang tuli walaupun kemampuan berbahasanya kurang, dapat memecahkan persoalan
kognitif dengan baik.[11]
4.
Perkembangan
Moral
Moral berasal dari kata mores yang berarti tata cara,
kebiasaan dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral - peraturan
perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang
menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.[12] Oleh
karena itu perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh
lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama
dari orangtuanya. Anak belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Kohlberg mengklasifikasikan perkembangan moral ke dalam tiga
tingkatan dan masing-masing tingkat terdiri atas dua tahap:
a.
Moralitas
prakonvensional. perilaku anak tunduk pada kendali eksternal. Dalam tahap ini,
anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman dan moralitas suatu tindakan
dinilai atas dasr akibat fisiknya. Pada tahap kedua, anak menyesuaikan terhadap
harapan sosial untuk memperoleh penghargaan.
b.
Moralitas
konvensional, dalam tahap pertama tingkat ini, “Moralitas Anak yang Baik”, anak
menyesuaikan dengan peraturan untuk mendapat persetujuan orang lain dan
mempertahankan hubungan baik dengan mereka. Dalam tahap kedua, anak yakin bahwa
bila kelompok sosial menerima peraturan yann sesuai, mereka harus berbuat
sesuai peraturan itu agar terhindar dari kecaman dan ketidaksetujuan sosial.
c.
Moralitas
pascakonvensional atau moralitas prinsip-prinsip yang diterima sendiri. Tahap
pertama, anak harus memiliki keluwesan dalam keyakinan-keyakinan moral yang
memungkinkan modifikasi dan perubahan standar bila ini terbukti menguntungkan
kelompok. Tahap kedua, anak menyesuaikan dengan standar sosial dan cita-cita
internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan
untuk menghindari kecemasan sosial.[13]
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara,
sebagai berikut:
a.
Pendidikan
langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar
dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa.
b.
Identifikasi,
yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku
moral seseorang yang menjadi idolanya.
c.
Proses
coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara mengembangkan
tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendapatkan pujian atau
penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan
hukuman atau celaan akan dihentikannya.[14]
5.
Perkembangan
Sosial
Bayi bayi merupakan makhluk sosial sejak awal kehidupannya. Hubungn
sosial dan emosi anak-anak merupakan aspek inti perkembangan dini.[15]
Misalnya rasa keakraban bayi atau seorang anak terhadap ibunya tidak dapat
dipahami secara lengkap tanpa mempertimbangkan kemampuan kognitif seorang anak.
Seringkali faktor ini dipengaruhi
perasaan anak dan interaksinya dengan orang lain.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan
sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri
terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu
kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.[16]
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik, individual ke
arah interaktif komunal. Pada mulanya anak bersifat egosentrik,
hanya dapat memandang dari satu sisi, yaitu dirinya sendiri. Ia tidak mengerti
bahwa orang lain bisa berpandangan berbeda dengan dirinya, maka pada usia 2-3
tahun anak masih suka bermain sendiri. Selanjutnya anak mulai berinteraksi
dengan anak yang lain, mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosialnya.
Perkembangan sosial mempunyai dua aspek penting, yaitu kompetensi sosial dan
tanggung jawab sosial.[17]
Adanya sifat egosentris pada anak disebabkan anak belum memahami
perbedaan perspektif pikiran orang lain. Dalam arti, dia belum memiliki
kemampuan bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak
harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan
ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan
orang-orang di sekitarnya, baik orang tua, guru atau teman sebayanya.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan
atau bimbingan orang tua dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau
norma-norma kehidupan bermasyarakat serta memberikan contoh penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan ini disebut sosialisasi. Oleh karena
itu, peran orang tua dalam sosialisasi ini sangatlah penting karena anak masih
terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing dirinya sendiri ke
arah kematangan.
6.
Perkembangan
Emosional
Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau
perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif adalah perasaan-perasaan
tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu.[18]
Perkembangan emosional bagi anak merupakan sesuatu yang penting, bahkan lebih
penting dari sekedar perkembangan kognitif. Para pakar telah meyakini bahwa IQ
(kecerdasan otak) ternyata hanya memberikam kontribusi 20%, sedangkan yang
lainnya dalah kecerdasan emosional (EQ), menurut Goleman kecerdasan intelektual
tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional.[19]
Orang-orang yang memiliki kemampuan emosional tinggi akan memiliki kemampuan
sosial yang tinggi pula. Orang tersebut akan mudah bergaul, ramah, tidak mudah
takut atau gelisah dan bersikap tegas dalam mengungkapkan perasaan mereka.
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri.
Emosi anak berbeda dengan emosi orang dewasa. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari ciri-ciri antara keduanya, yakni sebagai berikut:
Emosi
Orang Dewasa
|
Emosi
Anak
|
1. Berlangsung
lebih lama
2. Tidak
terlihat lebih kuat/hebat
3. Tidak
mudah berubah
4. Jarang
terjadi
5. Sulit
diketahui karena lebuh pandai menyembunyikannya
|
1. Berlangsung
singkat (sebentar)
2. Terlihat
lebih kuat/hebat
3. Mudah
berubah
4. Terjadi
berulang-ulang
5. Dapat
diketahui dari tingkah lakunya
|
Ada beberapa aspek perkembangan emosional yang perlu dikembangkan
pada anak. Belajar berekspresi diri, belajar mengekpresikan bakat, pikiran dan
kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh keberadaan orang dewasa. Adapun
kemampuan yang ingin dicapai dalam aspek pengembangan emosional adalah mampu
mengembangkan konsep diri, sikap positif tehadap belajar dan kontrol diri.
7.
Perkembangan
Agama
Perkembangan agama pada anak melalui beberapa fase, yakni:
a.
The
fairy tale stage (tingkat
dongeng)
Pada tingkatan
ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Anak
menghayati konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam
menanggapi agamapun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh
dongeng yang kurang masuk akal.
b.
The
realistic stage (tingkat
kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk SD hingga usia adolesense. Ide
ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada
kenyataan. Konsep ini timbul melalui pengajaran agama dari orang dewasa lainnya
dan lembaga-lembaga keagamaan. Pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas
dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.
Anak pada tingkatan ini memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi
sejalan dengan perkembangan usia mereka. Beberapa cara yang dapat dilakukan
orang tua untuk mengasah kecerdasan spiritual anak antara lain:
1)
Memberi
contoh. Anak usia dini mempunyai sifat suka meniru. Dan yang ia akan cenderung
meniru orangtuanya karena orang tua adalah lingkungan pertama yang ia temui.
2)
Melibatkan
anak menolong orang lain. Anak diminta untuk menyerahkan sendiri bantuan kepada
orang yang membutuhkan.
3)
Bercerita
serial keagamaan. Selain memberikan rasa senang pada anak, juga menanamkan
nilai-nilai spiritual keagamaan. Dalam mengajarika nilai-nilai ini dperlukan
kesabaran, tidak semuanya berhasil pada saat itu juga, adakalanya memerlukan
waktu yang lama dan berulang.
IV.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Psikologi perkembangan anak adalah psikologi perkembangan yang
secara khusus mempelajari tingkah laku anak. Memahami pentingnya perkembangan
anak dengan baik akan membantu para orang tua atau para pendidik untuk mendidik
anak salam rangka mengembangkan potensi anak secara optimal sejak usia dini.
Dalam hal ini. Orang tua atau pendidik juga harus memperhatikan aspek-aspek
perkembangan yang ada dalam perkembangan anak yang meliputi: perkembangan
kognitf, perkembangan berdasarkan jenis kelamin, perkembangan bahasa,
perkembangan moral, perkembangan sosial, perkembangan emosi dan perkembangan
agama.
Aspek-aspek perkembangan tersebut membantu orang tua atau pendidik
menentukan cara dan langkah yang tepat dalam proses pembelajaran secara efektif
dan sesuai dengan psikologi perkembangannya. Dengan demikian, anak akan menjadi
anak yang berguna bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama. Anak seperti itu
adalah anak dalam kategori sehat dalam kategori luas, sehat fisik, emosional,
intelektual, mental sosial dan mental spiritual.
B.
Penutup
Demikian makalah yang telah kami susun, semoga bermanfaat bagi
pembaca dan pemakalah sendiri. Dan semoga apa yang telah kita diskusikan
menambah rasa puji syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita akal
pikiran sehingga kita dapat mempelajari apa yang diciptakan-Nya. Kami menyadari
masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki makalah ini dan
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Goleman, Daniel, Kecerdasan Emosional, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1999.
Hurlock, Elizabeth, Perkembangan Anak, Jakarta: Erlangga,
1996.
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009.
Mussen, Paul Henry, Perkembangan dan Kepribadian Anak,
Jakarta: Erlangga, 1988.
Suardiman, Siti Partini, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:
FIP IKIP Yogyakarta, 1990.
Sujanto, Agus, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Aksara Baru,
1980.
Yusuf,
Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010.
[1] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),
hlm., 12.
[2] Agus Sujanto, Psikologi
Perkembangan, (Jakarta: Aksara Baru, 1980), hlm., 66.
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),
hlm., 12.
[4] Elizabeth
Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1996), hlm., 12.
[5] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm., 34.
[6] Siti Partini
Suardiman, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta,
1990), hlm., 63.
[7] Elizabeth
Hurlock, Perkembangan Anak, hlm., 157.
[9] Siti Partini
Suardiman, Psikologi Perkembangan, hlm., 88-89.
[10] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini dalam Islam, hlm., 35-36.
[11] Paul Henry
Mussen, Perkembangan dan Kepribadian Anak, (Jakarta: Erlangga, 1988),
hlm., 189.
[12] Elizabeth
Hurlock, Perkembangan Anak, hlm., 74.
[13] Ibid.,
hlm., 80.
[14] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja, hlm., 134.
[15] Paul Henry
Mussen, dkk, Perkembangan dan Kepribadian Anak, hlm., 104.
[16] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja, hlm., 122.
[17] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini dalam Islam, hlm., 56.
[18] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja, hlm., 115.
[19] Daniel
Goleman, Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999),
hlm., 207.
[20] Ibid.,
hlm., 48-49.